Jumat, 05 Juni 2009

Ingatan

Bagian Dari Sebuah Ingatan Yang Telah Hilang.


Aku, menatap waktu yang mulai lusuh, suram dan tak ada rasa. Semua telah pergi, semua telah menjauh untuk di ingat dan semua memang tak ada lagi. Rona senja tak ada lagi, laku telah berubah, dan iangatan tentang keramaian kala senja hilang tertelan cepatnya perubahan, yang tanpa suara namun pasti. Ah, aku, kenapa aku masih mengingatnya, rasanya telah sangat melelahkan merangkai apa yang telah tertinggal jauh dan pecah menjadi plot yang sempurna dan terangkai dengan indah. Aku lelah.


Aku mulai tak ingat, apa yang membuatku ingin mengingatnya selalu. Siapa dia? Siapa orang-orang itu dan siapa yang dengan sangat cakap berucap tentang pengabdian, sosialisasi dan tanggung jawab? Entahlah. Yang kuingat tentang mereka hanya kumpulan alur yang kacau, yang berantakan, terlebih lagi ada seseorang yang tergabung dalam hirakri ingatan itu membuatku menjerit sakit. Namun, ada beberapa bagian yang membuatku ingat tentang seseorang yang lainnya, aku ingat jika disana ku pernah berucap “Cinta” dalam hati untuk dia yang mungkin telah melupakanku lama.


Diantara deret senja yang menghembuskan angin dingin, dalam pelukan langit yang mulai gelap. Rona-rona wajah itu, rona-rona yang kadang mudah sekali tertawa, terlebih lagi ada seseorang yang terlahir dengan kekocakan tanpa tanding. Atau sepenggal wajah yang bulat, wajah seseorang yang selalu pusing dengan berat badanya. Ah adikku, adik kecilku yang sekarang entah masih mengingatku apa tidak, namun ialah tempat dimana aku mulai belajar bersuara, karena ia adalah kenangan yang penting, karena ia kenangan yang membuatku memiliki saudari di tanah asing itu.


Pengabdian, dalam kata itu masih coba kuingat dengan apa yang pernah kulakukan. Mencoba mengerti untuk apa? Dan mencoba mencari arti dari sempitnya ruang yang telah di isi mereka. Mereka yang jauh, mereka yang hanya bisa kuimpikan, mereka yang tak ada lawan, dan mereka yang sungguh mengajariku arti sesuatu. Ternyata aku terlalu payah. Kucoba mengingatnya jelas, namun semuanya telah remuk, semuanya memang sangat chaos dan aku kehilangan banyak kenangan, karena ini telah lama.


Bintang datang, tanda jika malam telah menyelami bumi dan bumi terselami gelap yang pekat. Sesekali kuingat jika aku pernah menatap purnama disana, lembut dan indah, walau sesekali terhalang awan yang bersliwet diantara hamparan nan luas itu. Ada penggalan tentang malam yang kuingat sebagai “pengabdian” seorang teman. Ia yang sangat lugas dalam berwacana, elok dan sangat menawan tiap deret katanya. Ah, aku ingin sepertinya, seorang perempuan yang mengerti urutan dari sebuah percakapan yang menawan. Temanku.


Rasanya disana juga aku pernah bersapa singkat dengan seseorang, seseorang lelaki yang berbadan tegap. Rasanya aku pun pernah berucap kata yang membuat kami saling menantang, saling merasa perkasa hanya karena gurauan yang kuanggap tak lucu. Ya, sebenarnya bukan karena gurauan itu yang membuatku marah, hanya karena sifat seorang pecundang yang telah dipecundangi kepesimisan, hancur, redam saat menumui keadaan yang disebut “kalah”, terlebih lagi “telak”.


Sinar itu telah hilang, bukan karena malam telah datang, namun mentari damai bersembunyi di balik awan-awan yang mendung. Hari yang basah, dingin, sepenggal cerita di tanah asing itu. sesekali kumenemui hujan, membuatku terkapar dalam dingin yang mendarat masuk kedalam tubuhku. Seperti biasa aku tak kuasa menahan limpahan air dari langit, aku alergi dengan hujan, aku tak mampu berdiri lama dalam hujan. Aku lemah dalam hujan. Hujan membuatku sakit.


Lelaki-lelaki itu kekar, pasti dengan badan mereka yang lumayan mekar. Mereka bisa diandalkan untuk urusan mengangkat. Aku mengenal mereka, aku mendengar mereka, aku pernah memanggil nama mereka, ya mereka manusia yang paling terakhir kukenal, mereka yang paling akhir kusebut namanya. Mereka, tanpa kata, sedikit kata, namun sangat mengerti cara membuat orang-orang senang, mereka seperti ahli marketing yang tau cara merubah kakunya sebuah keadaan dengan senyuman dan bingkisan, atau lebih dari itu. mereka borjuasi kecil yang menyenangkan.


Ada yang tergletak, terkulai lemah dilantai itu. seseorang, seseorang yang telah lama pergi, seseorang yang sepertinya telah lupa denganku, karena pesan pendek yang tak lagi dibalas. Mungkin waktu membuat sebagian orang lupa dan mengalami alienasi akan sebuah nama. Namun tak apalah, mungkin itulah hidup, sesekali dilupankan adalah sebuah kewajaran.


Tidur, menjadi tukang tidur yang selalu gampang tidur. Ah tidak juga, kadang tidur bukanlah sesuatu yang sangat mudah terjadi, walau menemukan sandaran yang sangat nyaman, karena tidur itu pikiran yang lelah. Bukan hanya badan yang lelah. Ada penggalan yang kuingat sebagai sebuh cerita, seorang teman. Ya, dia yang sangat iseng dengan apa yang biasa ia lakukan, membangunkan seorang teman yang masih sangat mengantuk dan kemudian menunjukan kemahiranya bermain ilusi. Ilusi yang awalnya memesonakan, namun ternyata hanya trik yang sudah melekat pada barang yang akan dimainkan. Temanku yang ingin menjadi “magician”.


Terakhir, tentang seseorang yang satu lagi. Seaorang yang mungkin telah melupakanku pula.. teman dari klaten, seorang teman yang pernah berucap “kamu sedikit warna”. Ya, itulah ia, yang sesekali pernah berucap, namun lebih banyak diam.. mungkin perbincangan yang produktif lebih menggugahnya dari pada obrolan yang tak jelas arahnya. Namun pernah kudengar pula jika ia bercerita tentang masa lalu, masa lalu yang tak selalu putih, masa lalu yang berwarna bak pelangi.. masa lalu, ya masa lalu yang sangat berbeda denganku.. kami memang berbeda dan aku memang berbeda dengan yang lainnya..


Itulah kisah, dari bermacam-macam ingatan yang mulai tumpang tindih dan susah untuk disatukan menjadi fragmen yang memesonakan kembali. Sudah, masa lalu itu sudah terlalu lama.. tiga tahun yang lalu kenangan itu terasa manis sekali, kadang ingin kembali ke masa itu hanya untuk bisa tertawa lebih lepas, karena mereka memang membahagiakan, karena mereka adalah bagian singkat yang indah.. mereka teman-temanku… KKN’ku 117………….. semoga kalian semua bahagia dengan pilihan yang kalian pilih….. terima kasih untuk kenangan 3 bulan itu.. terima kasih untuk membuatku bisa mengingatnya walau masih ada sedikit kekacauan, namun aku berterima kasih jika ku bisa melihat kalian sekali lagi.. Terima kasih Tuhan……………………………..^_^

Minggu, 10 Mei 2009

pemimpi

Senja Kala dan Seorang Pemimpi


Hari berjalan makin cepat, detik-detik tak lagi terhitung. Dan waktu memang tak bisa diam, terus bergerak kedepan dimana kamu tak lagi mampu kulihat seperti dulu, hanya sebuah kebisuan yang tersisa, hanya sebuah keterpesonaan yang menggantung, dan hanya sebuah kata cinta yang mendarat tajam dilubang ilusi.


Prolog, pada deret kata-kata itu ku mulai bercerita, tentang masa-masa yang lalu, tentang kamu yang masih menguasai anganku, dan tentang kamu yang terus saja melayang bagai awan dalam langit mimpiku. Kamu, kamu yang terlalu sederhana, tak ada kesan jika engkau ‘mewah’, namun kamu bagai setitik cahaya dilangit malam yang begitu dinantikan untuk datang, seperti penggalan nama belakangmu. Karena kamu adalah kamu yang kurindu.


Pada sebuah sepi, pada waktu-waktu yang kaku kamu selalu datang. Memang bukan karena aku kamu datang, hanya karena sebuah rutinitas yang selalu datang melewati waktu kita. Aku melihatmu, awalnya tak ada sesuatu yang membuatku arahkan mata ini padamu. Kamu terlalu kaku untuk kulihat, kamu berbeda, kamu adalah huruf-huruf pada lembaran halaman buku yang tak bisa kuartikan. Karena kamu adalah kamu.


Senja yang remang, suara burung makin samar terdengar, yang ada hanya suara anak-anak yang begitu riangnya bermain setelah selesai mengaji. Kamu, kamu selau bisa kulihat kala langit mulai menguning, kala semua rindu itu semakin menumpuk tinggi, tapi sayang tak pernah tertumpahkan seperti lava merapi. Beku dalam rongga yang dingin. Ya, memang terlalu menyedihkan.


Semua semakin menjauh sekarang, kamu tak selalu kulihat lagi seperti halnya kala itu. Jum’at atau pun Minggu, kamu selalu ada untuk kupandangi, walau hanya dari balik jendela dirumah itu. Kisah lalu itu telah usai, mungkin telah menjadi bagian yang usang dari ingatan beberapa orang. Tapi untukku tetap sama, tetap aneh, dan tetap masih membuatku diam dalam kebekuan yang dingin, mungkin membuatku Hypotermia. Mati rasa.


Sesekali aku pernah melihatmu, melihat pula bahwa dinding yang pernah kulihat dulu itu masih tetap ada. Mungkin semuanya memang hanya sampai disini, hanya menjadi kebisuan tanpa sisa, hanya menjadi keterpesonaan yang tetap menggantung, dan hanya menjadi kata cinta yang akan mendarat tajam dilubang ilusi. Tak ada lagi suara burung-burung yang selalu kudengar kala senja datang. Tak ada lagi suara anak-anak yang begitu riangnya bermain setelah selesai mengaji. Terlebih lagi suara detak jantungmu, yang entah dimana sekarang. Semuanya telah usai dan kamu berakhir dalam mimpi seorang pemimpi. Sayang....

Terkasih

Untuk yang Terkasih.


Buih dilautan mulai mengering sekarang. Semuanya telah menjadi yang suram, hutan-hutan tak lagi indah untuk didongengkan, semuanya telah mati sayang, global warming katanya. Dan kamu masih saja menangis sayang, masih saja meratapi luka lama yang telah tertinggal, sepertinya hatimu memang tak beranjak dari ratapan itu.


Diantara pengapnya nafas yang engkau rasakan, kamu yang masih saja bertanya tentang sepi, tentang dinginnya udara malammu yang sendiri, biarlah semuanya berlalu barang sesaat saja sayang, biarkan paru-parumu merasakan kepuasan dari segarnya udara yang alam beri, dipagi hari. Embun-embun di kala pagi itu akan terus mengitari rumahmu, mencoba untuk sedikit membuat basah dedaunan yang kering seiring kemarau yang datang diduniamu, walau sebenarnya sekarang masihlah musim hujan sayang.


Cinta, dalam kata itu selalu saja mencari jawab yang rasional, yang bisa dimengerti dan mungkin bisa memuaskan rasa sakit yang timbul, hingga perih itu berhenti meremukan hati yang masih tersisa. Alam bergerak maju, lembut seperti lembutnya angin yang kita sebut sepoi. Jadi, maukah engkau berhenti sesaat saja, melihat rasa sakit dari satu sisi yang berbeda, karena mungkin engkau bisa tersenyum sekali lagi. Sayang, Tuhan tak bermaksud menyakitimu hatimu saat Ia memutuskan ‘dia’ pergi dari hidupmu, bukannya semua orang akan mendapatkan beberapa hal yang menyakitkan dalam hidupnya? Bukan untuk dikutuk, karena bagaimanapun juga setengah dari kehidupan kita hanya berisi “gurauan” Tuhan, sebuah gurauan yang mengajari kita tersenyum, walau sesekali hanya bisa tersenyum kaku.


Sudah, rasanya sudah banyak hal kukatakan padamu. Bukan untuk menunjukan bahwa aku hebat dan kuat. Hanya saja aku tak ingin engkau lebih lama menangis dan menatap pintu-pintu yang tak lagi engkau yakini, engkau berkata jika harapan itu telah menghilang seperti halnya awan-awan yang terbawa angin. Ya, semuanya tak ada lagi untuk dirindu, semuanya telah berubah. Jadi sayang maukan engkau berkata pada hidupmu jika engkau lelah menangis dan sudah saatnya bergerak, terlebih lagi waktu takan pernah berhenti hanya karena mata itu engkau tutup. Sayang, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, karena memang hanya itu yang bisa terlalukan. Sayang, semoga kamu bisa bahagia kelak. ^_^

Angan

Hanya Tentang Angan

Jalan, aku berjalan menuju tempat yang dulu kuingat sebagai persinggahan. Mencari cerita atau pun wangi yang mungkin masih bisa kudengar dan kucium. Namun semuanya memang tak lagi ada. Mungkin benar waktu tak pernah diam atau pun menunggu, sekalipun kita berhenti berkata, berharap atau menutup mata. Waktu akan terus berjalan, dan karena itu yang dulu pernah ada, kan berakhir dalam bentuknya yang pasti “kenangan”.


Dan aku diam saat memandang semua yang telah hilang. Aku berkata kepada semua yang mungkin masih kukenal atau masih mengenalku. Menanyakan tentang semua yang telah pergi, kemana? Kearah mana? Dan telah sejauh apa? Namun dinding-dinding itu diam, karena mereka kaku dan memang mereka tak bisa berkata. Hanya saja aku pernah melihatnya sandarkan semua letihnya pada dinding-dinding yang kutanyai tentangnya itu.


Angan, dalam angan tentang semuanya yang masih bisa kurindu, masih lancar mengalir di setiap tetes darahku yang basah, atau pun dalam kilatan kenangan yang telah terbingkai di satu ruang hati. Apakah anganku kan menemukannya lagi? Ataukah yang telah terlipat waktu itu memang telah menjadi yang di sebut “hilang”.?

Sabtu, 25 April 2009

Falling

Part 1. Falling Into Memory


Ahh, kukira semuanya menjadi yang mudah untuk dilupakan.. Namun ternyata semua yang pernah melewatiku, berubah seperti karang, biar kualirkan begitu kuatnya hasrat ingin melupakan, namun tak juga bergeming merapuh. Dia menjadi semakin kasar dan kuat dalam urat nadiku. Mungkin benar, melupakan selalu pasti berakhir dalam ingin, dalam nyata tak sekalipun itu ada dan terjadi. Tak bisa kujauhkan namun mudah untuk kudekatkan, apakah hal itu menjadi sakit untuk selamanya?


Dentangan jam yang nyaring kudengar, tak kukira jika bunyinya sekasar itu, dan tak kukira pula jika nyaring suara itu hanya mengingatkan banyaknya waktu yang pernah dilewati, namun tak sekalipun mengalirkan sebuah dongeng yang baru. Ini, dan ini-ini yang lainnya.. Apakah menjadi sebuah kesalahan yang fatal jika yang ada untuk dirindu adalah bayangan yang ternyata menyakitkan? Ahh, aku ternyata terlalu banyak bertannya.. Bukankah semua hal terkadang menjadi hal yang asing, tak bisa dilupakan, namun untuk dirindu adalah kemudahan biar pun itu salah. Aku hilang dalam mimpi dan nyata seseorang.



Part 2. Falling Into Infinity


Alunan yang khas, tanpa ada nyanyian disana, namun aku ada untuk bercerita, aku ada untuk menceritakan semua yang pernah ada itu. Maaf aku sedikit melupakan, dan maaf jika cerita itu tak seindah bayangan kesempurnaan yang pernah kalian impikan dalam bangun atau pun mimpi kalian. Aku hanya ingin bercerita, tentang cerita yang singkat, tentang cerita pendek yang selalu bisa kuingat hingga sekarang.. Cerita tentang waktu bernama senja, tentang keasingannya yang gelap, tentang rindu yang tak kuyakini adalah benar. Aku hanya bisa berdiri disatu pintu, tempat persimpangan mimpiku yang selalu hilang setiap ia melewatiku. Aku tak lagi bisa melihat burung-burung yang bernyanyi, yang kudengar hanya nyanyian anak-anak yang selalu menciptakan keramaian, sebuah keramaian yang membuatku tak bisa mendengar detak jantungnya.


Mungkin ataupun yang lainnya, aku tak lagi menemukan apa yang lama kuyakini itu, ternyata aku telah melihatnya sebagai sebuah kehadiran yang berbeda, ternyata wujud yang biasa itu telah kutemukan saat semua hal semakin tak kumengerti. Kemanakah semuanya akan bermuara?, tak sekalipun aku meminta jika rindu adalah yang nyata untuk kurasakan saat itu, aku hanyalah ingin bisa melihat, ingin bisa mendengar, namun aku tak sekalipun berangan yang ’hadir’ itu bisa membuatku sesadar ini. Aku tak pernah merasa jika itu telah menjadi yang ’hilang’ untukku, namun apa yang tertawarkan hanyalah sebuah ilusi yang membuatku putus asa, tanpa meninggalkan satu cerita perngharapan yang bisa membuatku lebih lama berharap. Kita memang berbeda, andai saja ada satu hal yang bisa kulihat sebagai ketersamaan, dan jika yang sama itu bukan hanya wujud kita yang manusia. Aku ingin persamaan yang lebih dari itu, sesuatu yang membuatku berani untuk menunggu, sesuatu yang membuatku bisa setia menantikanmu biar dalam keasingan yang paling nyata.


Oh, cinta

Kau tarik lenganku,

Kemanakah engkau akan meletakanku?

Jangan menawariku wanginya harapan

Jika tak sungguh ada untuk diharapkan.

Agustus

Sebuah Kisah lalu, Sebuah Catatan Lama


Kulihat, ia kulihat sangat dekat.. Tak begitu jauh jarak biar pun ada.. Kenapa, kenapa jika semuanya menjadi yang sakit seperti ini..? Kukira aku telah mampu menatapnya menjadi yang lalu.. Namun sayang tak sedikit pun hal kutemukan berbeda, ternyata aku masihlah sama, ternyata aku masih menyimpan apa yang kuanggap kecil.. Sekarang, semuanya menjadi keanehan saat kubuka mata lebih lebar, ternyata tak ada ruang yang tak ada dirinya.. Ternyata jauh sebelum pertemuan ini, aku telah meresapinya dalam semua bahasa di nadi hidupku...


Jelas, apakah memang telah sangat jelas dengan apa yang terlukis disana..? Ternyata tak sungguh ada untuk beranjak, aku masihlah hidup dimasa lalu, dimana kata penyesalan itu berawal.. Tak banyak kata, terlalu kaku dan memang aku ada dalam kekakuan itu. Sepi, dalam sepi itu kupikir aku telah kuat, telah mampu untuk menatapnya hanya sebagai 'kisah', dan takan pernah lebih dari itu.. Kukira aku hidup dalam nyata yang memang nyata, namun ternyata aku masih bermimpi saat menatapnya dengan hasrat yang masih sama. Aku tak pernah menemukan bahasa yang bisa ia dengar. aku hilang seiring keraguan itu merayap masuk dalam setiap pori hidupku.


Andai, dalam pengandaian yang tak pernah berubah, dalam kalimat yang semakin tak kumengerti.. Dimanakah aku sekarang, apakah semuanya hanya untuk mengajariku penyesalan yang bodoh? Entahlah.. Jika saja ‘dinding’ itu berpintu, jika saja semua hal mudah untuk disentuh, jika saja harapanku tak sungguh lusuh, jika…….. dan jika-jika lainnya…… yang tak pernah berbatas.


Detik ini, dalam detik yang tak pernah beranjak, aku ingin menangis, tapi sayang aku tak bisa menangis, karena air itu tak lagi ada, kering dalam perandaian yang hanya andai..

Kelabu

Kamu


Kamu, masih ingatkah kamu akan apa yang lalu itu? Kamu yang dulu terlalu cepat berharap, terlalu cepat merasa puas dan terlalu cepat merasa memiliki. Masih ingatkah kamu apa yang terjadi beberapa tahun silam? Dimana kamu menemukan apa yang bisa engkau sebut kebahagiaan, dan dengan sangat percaya diri jika hatinya telah jatuh dalam dekapanmu yang kosong.? Kamu terlalu bermimpi teman.


Ya dahulu kala, saat itu kamu yang begitu ‘kosong’ hanya karena merasa tak lagi mampu berharap. Yang ‘putih’, yang begitu membuatku jatuh hati tak ada lagi dalam kekosongan karena seorang temanmu telah mendapatkan perhatianya. Kamu sakit saat itu, kamu tak mampu untuk tetap menatap tegak. Ya kamu telah kalah saat itu. tapi bukan itu yang ingin kuingatkan padamu, bukan tentang sebuah kekaguman yang masih engkau simpan pada yang ‘putih’ itu, tapi cerita setelahnya yang membuatmu belajar untuk mengumpat dan membeci. Kamu masih membencinya, karena harga dirimu tak lagi utuh, kamu telah menjadi pecundang dalam sebuah pertunjukan yang peranmu hanyalah sebagai figuran.


Dia yang kamu kenal, dan menjadi penumpang setiamu selama kerja nyata itu. Dia yang awalnya menawarkan diri untuk duduk setia di belakang jok sepeda motormu, dia yang tak terlalu banyak bicara tentang perasaannya padamu, dan dia yang membuatmu mengerti seberapa biasanya dirimu dihadapannya.


Suatu ketika ia pernah mengundangmu, untuk sebuah cerita yang tak ia ketahui. Kamu datang, kamu bercerita dan kamu senang dengan apa yang ada dimalam itu, walau endingnya kamu diminta pulang oleh kepala RW setempat karena sudah terlalu malam. Dan setelah itu, kamu merasa ia juga cukup mampu membuatmu jatuh hati, ia cukup mampu membuatmu berhenti berfikir tentang temannya yang tak lagi bisa diharapkan. Kamu mulai merindu, dan dalam tiap detiknya kamu mulai sering memikirkanya.


Kamu jatuh hati, dan kamu mulai ingin memilikinya dan kamu telah mulai sering berbincang denganya, padahal dulu kamu tak sekalipun melihatnya dengan penuh perhatian, karena matamu penuh dengan si bungsu asal Purworejo itu. Kamu, kamu mulai berharap, mungkin terlalu cepat tapi kamu terlanjur merasa cukup mampu membahagiakan orang. Tapi tak apalah toh dia juga terasa membuka pintu untuk engkau masuki, terlebih lagi ia pernah berkata kalau dia yang kala itu tak sedang dengan siapa-siapa.


Kamu melangkah maju menuju hatinya yang engkau rasa telah menerimamu dengan apa adanya didirimu. Hingga pada suatu ketika semua keadaan yang engkau bayangkan indah menjadi hancur dan remuk. Ia pergi tanpa permisi seperti engkau tak pernah ada. Ternyata ia kembali keseseorang yang dulu ia cintai. Tapi kamu masih ragu, kamu masih berfikir itu tidaklah mungkin, karena ia pernah bercerita jika kesendiriannya itu telah ia jalani lama.


Kamu diam, kamu hanya diam dengan apa yang mulai engkau sadari, ternyata cinta itu tak pernah ada, yang pernah terasakan hanyalah ilusi lalu yang sesaat membahagiakan. Dan saat itulah engkau terluka, namun belum sampai berfikir kalau harga dirimu terhina.


Waktu berlalu, kamu diam dan masih diam,. Coba engkau ulangi semua cerita dan kenangan yang telah ada dulu, mencari jawab , ‘kenapa?’. Ya, kenapa untuk sebuah rasa sakit yang hinggap dan meremukan harapanmu. Namun ada satu yang tak pernah berubah, ternyata kamu masih tetap berharap akan dirinya yang masih mungkin kembali dan berkata “aku ingin mendengar ceritamu lagi”.


Sayang, ya sayang, ternyata tak ada yang berubah, ia semakin melangkah menjauh, dan rasanya ia makin menikmati cintanya yang kembali, ia makin tak bisa engkau temui, ia hilang seperti embun yang dimakan matahari, lenyap tanpa bekas. Namun entah mengapa, engkau masih saja mencoba, hingga tanpa engkau sadari sakitmu makin menumpuk dan akalmu pun makin sakit, kamu menjadi aneh karena tetap merasa bisa berharap. Hey, bukannya dia pernah berkata ia yang menjadi bingung karena cinta masa lalunya, harusnya saat itu kamu berhenti, kamu mengerti jika kamu memang belum bisa dicintai.


Waktu berlalu, makin cepat, makin cepat pula membuatmu tak waras. Temanmu sering berkata kalau kamu ‘bodoh’, kamu tak harus selalu bermimpi, ia tak ada, ia tak cukup baik untuk diharapkan, karena ia hanya bermain denganmu, karena ia hanya menganggapmu sebagai pelengkap dari apa yang tidak lengkap. Kamu hanya “ban serep” dari mobil indah mereka. Kamu bodoh.


Kamu, kamu masih ingat kejadian setelah ia menyelesaikan kuliahnya? Ya, dia yang akhirnya berkata dengan sangat jujur jika ia tak pernah merasakanmu, kamu kosong baginya dan kamu hanyalah masa lalu tak terlalu penting untuk ia ingat. Kamu diam mendengar katanya, masih belum percaya dengan apa yang ia katakan, aneh dan mulai kaku untuk tersenyum, hanya menyeringai getir dengan apa yang engkau dengar pagi itu.


Dan ia pun benar hilang, ia kembali ke kampung halamanya, ia tak lagi engkau lihat, hanya sesekali pernah merasa melihatnya namun tak sungguh yakin. Engkau coba melewati masa transisi itu, masih kaku, lesu dan tanpa semangat. Namun di masa itu ada acara yang membuatmu bisa sedikit tersenyum, ya kamu melihat ‘putih’ sekali lagi, melihatnya yang begitu lucu, pipinya yang makin besar. Si ‘putih’ yang saat itu sedang bahagia, dimana dua minggu sebelumnya ia telah di wisuda.


Waktu terus berjalan, bulan-bulan berjalan. Anehnya kamu masih saja berharap. Anehnya kamu masih bermimpi jika suatu kala ia bisa engkau temui sekali lagi dengan keadaan yang lebih baik, dimana kamu lebih mampu untuk dicintai olehnya. Mungkin cinta memang gila, karena itu mulai kulihat ada padamu, kamu mulai sinting.


Kamu, apakah kamu masih ingat bulan itu, bulan dimana seorang teman dari masa lalumu berkata kalau ia sudah menikah. Kamu shoack, kamu tak percaya dengan apa yang engkau dengar itu, hingga rasa soto sapi yang begitu engkau sukai menjadi hambar tak ada rasa sama sekali. Setelah mendengar kabar itu, kamu bercerita kepada teman2 kostmu, teman2 yang mungkin sudah terlalu bosan mendengar rengekanmu. Mereka tertawa, terkekeh tanpa henti menertawai nasibmu yang lumayan tragis.


Kamu belum percaya penuh dengan apa yang teman lamamu ceritakan, kamu masih menganggap jika itu hanyalah kabar burung. Hingga pada suatu waktu di bulan Agustus, nomor handphonnya yang lama aktif kembali, kamu bertanya padanya tentang apa yang engkau dengar dari teman lamamu itu. Namun terasa aneh dengan jawaban yang ia berikan, “sekalian aja kalo aku udah punya anak”. Kamu, kamu tertawa dengan jawabanya, karena bagaimana ia bisa secepat itu memiliki anak, terakhir engkau lihat saja ia tak terlihat jika ia sedang hamil.?


Kamu senang, kamu merasa jika kamu masih bisa berharap, karena kamu menganggap apa yang teman lamamu katakan dulu kala itu hanyalah hal kosong. Ia belumlah menikah, ia masih bebas untuk diharapkan. Dan entah dengan energi dari mana kamu merercanakan untuk melangkah lebih berani, lebih nekad, lebih gila dan lebih gila-gila lainnya. Mungkin ini yang disebut cinta memang gila, menggerakan semua apa yang dimiliki, menjadikanmu memiliki insting bertahan hidup dan mencari lebih tinggi, lebih tinggi dari biasanya, mungkin inilah kamu yang paling hebat.


Kamu melangkah, berjalan ke kotanya, dengan peta arah yang ia beri padamu. Kamu melangkah kearah yang belum pernah kamu lewati. Kamu sinting. Kamu kelewat nekad. Tapi kamu hebat, karena kamu berhasil menemukannya, menemukan rumahnya hanya bermodalkan peta tak jelas. Kamu hebat teman, aku salut denganmu yang kala itu, walau pun niatmu menemuinya tidaklah 100 % karena harapan itu, tapi ada sesuatu yang belum selesai antara kamu denganya. Tapi sekali lagi kamu hebat teman. Di akhir September itu kamu menjadi seseorang yang belum pernah aku bayangkan.


Tapi bukan pengharapan yang engkau temui disana, kamu remuk, kamu remuk redam dengan apa yang engkau lihat disana. Ternyata apa yang ia ucapkan di bulan Agustus itu ternyata benar. Ia telah menikah. Ia telah mempunyai momongan. Ia telah membodohimu terlalu telak. Kamu diam, kamu hanya bisa diam memandangi apa yang engkau lihat disana. Hanya senyum getir yang kamu tunjukan dan lakukan, tak lebih dari itu. Udara disekitarmu pun terasa pengap terhirup, tak ada khayalan indah yang tersisa. Ia tak lagi bisa engkau harapkan, ia telah menjadi sesuatu yang sangat haram, biar engkau masih menginginkannya. Hening suasana di sore itu, hening tanpa kata yang mungkin senyummu terasa tulus. Kamu mulai benci karena kamu merasa di bodohi dan dipecundangi cinta. Yang pasti wajahmu kala itu sangat lucu terlihat, wajah seseorang yang kalah. Hahahaha.


Sore itu, kamu masih termangu, mencoba untuk tidak menunjukan apa yang kamu rasakan. Kamu mencoba tenang, namun tetap saja ini terlalu menyakitkan bagimu bukan? Karena baru kali ini kamu merasa percuma. Karena baru kali ini kamu merasa lengkap di tipu orang. Karena baru kali ini perjuanganmu yang begitu besar dan nekad menjadi sia-sia. Menjadi debu yang berhamburan tertiup angin sore yang dingin. Kamu, kamu ingin menangis kala itu, namun anehnya tak ada air mata yang jatuh. Yang terasa hanya dadamu yang sesak sekali.


Kamu melangkah pulang, pulang dengan wajah yang lesu. Kamu hanya termangu selama perjalanan pulang, memandangi pemandangan sekitar yang kosong. Kamu lelah, kamu hampa, hanya diam tak ada kata. Dalam hati engkau berkata “aku takan melihat ke belakang lagi, karena ini sudah cukup untuk membuatku berhenti”. Dan kamu tak lagi melihatnya, dan kamu sekarang telah berhasil menyelesaikan apa yang pernah engkau mulai dulu. Selesai dan tamat.


Dan sampailah kamu di kost’anmu setelah perjalanan empat jam yang melelahkan, dan menemukan seorang teman baikmu yang sedang duduk didepan komputernya. Kamu bercerita tentang apa yang engkau lihat kemarin. Kamu tertawa, kamu tertawa didepan temanmu, dan temanmu pun tertawa mendengar perjuanganmu kemarin. kamu dan temanmu menertawai betapa ‘bodoh’nya kenekatanmu, melangkah ke kota sebelah tanpa pernah sekalipun kesana, namun karena kebaikan Tuhan kamu menemukan rumahnya. Dan Tuhan memang Maha Adil, Tuhan memberimu jawaban atas pertanyaan yang selalu datang di otakmu. Mungkin benar yang baik tidak selalu datang dengan cara yang baik. Tapi kamu puaskan teman?


Selesai, cerita itu telah selesai. Walau dua bulan pertama adalah bulan yang sangat menyakitkan, mencari jawaban, mencari alasan. Dan kamu telah menemukannya sekarang, dan kamu telah berhenti merengek akan kisah yang telah waktu gulung dan menghilang dari hidupmu itu. Selesai. Kawan. Sekarang sudah saatnya kamu melangkah lebih pasti, karena banyak hal yang ada didepanmu menunggu untuk engkau jemput. Teman, didepan sana ada banyak hal yang kan bisa membuatmu tertawa. Jadi bolehkan aku mengajakmu untuk menikmati harapan lain yang sedang menunggu kita?


Oy, saat kamu sakit karena pertunjukan dari perjalanan empat jam’mu itu, kamu berkata jika kamu akan menunjukan padanya bahwa kamu bisa menjadi hebat dan sukses, dan ia menyesal telah membuangmu seperti sampah. Kamu lucu teman, kamu lucu jika renungan rasa sakit hanya menghadirkan kalimat murahan seperti itu. teman seharusnya kamu bisa berfikir lebih tinggi, levelmu telah naik satu tingkat, kamu telah masuk gear 1 teman. Kamu, seharusnya kamu bisa lebih baik, misal dengan rasa sakit itu bukan melulu dendam yang engkau pikirkan, tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat orang yang percaya padamu menjadi bahagia. Itu lebih baik teman, hidup itu singkat, dan mungkin sangat singkat. Jadi apa salahnya melupakan rasa sakit itu dan bagaimana membuat harimu lebih banyak senyum.? ^_^


Satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu, terserah kamu ingin mendengarnya atau tidak..

“kamu jauh lebih beruntung, kamu datangnya dihidupnya hanya untuk merasakan sakit, sebuah rasa sakit yang membuatmu belajar”

“sedangkan dia, datang dihidupmu yang singkat, namun endingnya hanya untuk kamu benci dan hina, bukankah itu lebih menyedihkan?”


Pikirkanlah itu………. ^_^