Jumat, 19 Juni 2009

teman

Cerita Lama Tentang Teman-Teman Lama


Bulan Januari kemarin akhirnya ketua ekstra kami semasa SMA melepaskan masa lajangnya. Yap, dia menikahi gadis yang ternyata anak teman orang tuanya. Alhamdulillah ternyata ketuaku ini masih lumayan laku di lingkungan kaum hawa.


Kami, anak-anak sebuah ekstra angkatan ke 13. Menurut itung-itungn primbonya para Paranormal angka 13 itu termasuk angka yang kurang baik, dan entah karena kami memang sangat tersugesti pendapat itu maka selama tiga tahun menyandang angka itu. bisa di bilang tak selancar dan semulus kain sutra asli Cina. Terlalu banyak intrik sesama kami, dan yang terlampau parah itu para “tetua” ekstra tersebut yang rasanya sangat kurang bersahabat dengan kami. Karena sangat tidak enaknya menyandang angka tersebut, seorang teman mengusulkan mengganti nama angkatan kami menjadi 12B.


Waktu baru tergabung dalam angkatan 13, semuanya masih terasa baik, karena bagaimanapun juga kami masihlah anak-anak polos yang baru lulus SMP. Jadi cles ataupun sejenisnya tidaklah terlalu terasa, tapi kalau bicara tentang latihan rutin baris berbaris dan pengetahuan teori tentang Bendera ada beberapa dari kami yang masuk kategori “tukang kabur”. Kategori ini dimiliki empat anak laki-laki dari kelas 1.3 yang memang sudah di black list oleh kami sendiri dan terutama oleh senior kelas 2. Sedangkan yang lainnya termasuk orang-orang yang taat aturan, terlebih lagi pak Lurah kami yang memang terajin diantara yang paling rajin. Dan aku hanya pengekor yang baik dimana aku termasuk kategori yang rajin, rajin di push up, skot jump, dan tidak ketinggalan juga sentuhan mesra dari tangan senior kami.


Anak-anak ekstra angkatan kami bisa di bilang lumayan mencolok. Selain karena rambut kami yang jarang sekali panjang dan cenderung cepak, juga karena beberapa dari kami memiliki tinggi badan di atas 170 cm. Karena itu kami lumayan menjadi pemandangan yang mencolok saat sedang berjalan bersama.


Kisah kami bisa masuk ekstra ini lebih banyak karena ketidaktahuan atau asal ikutan. Atau kalau pun ada yang memang berjiwa untuk ikut ekstra ini sangatlah sedikit. Mungkin yang paling lucu nasibnya Andri temanku dari jaman TK dulu. Awalnya ia terdaftar di ekstra ”Coklat”, namun karena tidak tahu di ruang mana anak-anak ”Coklat” berkumpul maka dengan sangat sadar atau linglung dia ikut denganku yang terdafatar di ekstra ”Bendera”. Dan hasilnya dia menjadi wakil ketua kami sampai kami lulus dari SMA. Mungkin itulah pilihan yang paling Andri sesali waktu itu, tapi sekarang dia tahu jika di ekstra itu dia menemukan teman-teman yang lebih mirip saudara.


Selama kami masih menjadi kelas 1, beberapa dari kami ada yang mulai tidak kuat dan akhirnya mengundurkan diri dari ekstra tersebut, tak banyak namun cukup untuk membuat nayliku dan beberapa teman lainnya batal keluar dari ektra tersebut. Sentuhan mesra dari tangan senior dan juga sesama rekan adalah pemandangan yang cukup untuk membuat nyali kami turun drastis. Padahal kalau kami keluar penderitaan kami hanya sebatas hari itu saja, dan tidak berkelanjutan selama beberapa bulan atau beberapa tahun kedepan. Itulah pikiran yang baru kami sadari setelah cukup lama menjadi lulusan ekstra tersebut.


Angkatan kami ini termasuk angkatan yang bisa disebut aneh, saat ada seleksi untuk menjadi pengibar tingkat kabupaten tak ada satu pun dari kami yang sangat iklas untuk mengikutinya, malah beberapa dari kami menghindari seleksi itu. Entah dogma dari mana yang membuat kami mundur perlahan. Mungkin bukan karena dogma atau sejenisnya kami mundur perlahan, itu hanyalah buah dari kemalasan kami saja yang tidak terlalu berminat dengan ritual yang lebih resmi. Singkatnya lagi kami memang pemalas. Cerita tentang kemalasan kami bisa juga di temui saat ada rekruitmen anggota OSIS sekolah, tak ada satupun dari kami menawarkan diri untuk mengisi pos-pos yang masih kosong. Sampai-sampai senior diatas kami mencari kami satu per satu guna menanyakan adakah yang berminat untuk mengisi pos tersebut.? Dan akhirnya memang ada, walau dengan sedikit paksaan dari senior kami.


Setelah kami menjadi pengurus, yaitu saat kami dinyatakan bisa naik kelas 2 masalah berdatangan bak air bah. Pertama adanya genk-genk’an diantara para pengurus yang itu mengganggu stabilitas kepengurusan, hingga tanpa sadar itu merusak hampir semua acara yang akan kami laksanakan sebagai seorang pengurus. Dan yang kedua adanya campur tangan dari pihak “para jenderal“ diatas kami yang dengan sadar ataupun tidak membuat suasana kepengurusan kami lebih runyam dari sebelumnya. Namun ada yang paling kami syukuri adalah kami memiliki penerus yang bisa di katakan nurut semua. Terutama si kumis yang walau terlihat sangar dengan kumisnya tetap saja setia dengan apapun perintah kami.


Selama kami menjadi pengurus hal terberat yang terjadi adalah ketidakharmonisan kami dengan para “tetua“ ekstra ini, bisa di katakan kalau kami bertemu bisa langsung perang. Sebenarnya entah karena apa bisa terjadi ketidakharmonisan yang sudah berkadar “Merah“, namun kata seorang rekan, hal tersebut terjadi karena mereka terlalu merendahkan kami dan terlalu mencampuri urusan eksternal maupun internal kami. Kekacauan terbesar antara kami dan mereka itu terjadi pada acara Pelantikan golonganya Si kumis dan juga serah terima jabatan saat kami sudah menjadi anak kelas 3. kekacauan itu lumayan besar, sampai-sampai pembina ekstra kami tidak bisa melakukan apa-apa. Dan rasanya dendam di antara kami masih di bawa sampai sekarang. Namun prinsip kami tak akan memulai keributan, karena pasti kalah di kantor Polisi.


Berita tentang betapa nekatnya angkatan kami ternyata terdengar sampai angkatan sekarang. Mungkin sebenarnya kami telah di black list oleh angkatan-angkatan sebelum kami dan kalau ada angkatan di bawah kami yang ikut-ikutan memblack list juga bisa kami jawab “masa bodoh“. Dan tentang orang-orang nekat di angkatan kami hanyalah beberapa saja, yang lainya hanyalah pengikut setia paham “Solidarisme“, karena bagaimanapun juga beberapa dari kami juga merasa tersiksa. Dan aku salah satu pengikut paham tersebut, bukan mencari aman, hanya menyiapkan diri sebagai bala bantuan. Ah, pembenaran sekali lagi dari sebuah kepengecutan.


Namun apakah selama kami mengikuti ekstra tersebut semuanya hanya berisi penderitaan? Tidak juga, karena bagaimanapun juga kami pernah merasa bahagia, tertawa bersama dan lain sebagainya yang membuat kami merasa senang dengan apa yang ada di sana. Misalnya kebiasaan kami menginap di SMA yang seperti tuna wiswa, tidur yang hanya beralaskan apa yang bisa di gunakan sebagai alas. Dan tidak ketinggalan mengambil singkong di kebun sebelah sekolah untuk di jadikan cemilan tengah malam kami. Atau yang paling sering kami lakukan adalah mengerjai angkatan di bawah kami, terutama kalau ada yang sedang berulang tahun. Maklum budaya seperti ini sudah biasa dan turun temurun dari angkatan yang paling tua. Tapi karena acara ini terlalu sering kami adakan, lama-lama gerombolannya si kumis sudah bisa menebak, apalagi kalo akting kami ga bener atau diluar skrip. Sekali aku ikutan nimbrung di “Sinetron“ dadakan ini, dan hasilnya gagal total. Aku dan ketuaku ketahuan tertawa karena tidak bisa menahan betapa lucunya ekspresi orang-orang yang sedang ketakutan. Yang pasti bakat akting memang penting walau hanya untuk sandiwara singkat.


Dan setelah kami menyerahkan tapuk kepengurusan kepada gerombolannya si kumis, di mana yang menjadi ketua itu si Muhaimin. Kami jarang berkumpul lagi, mungkin kami baru merasa lega setelah beberapa tahun hidup dalam tekanan yang rasanya lumayan tidak enak. Kami semua baru berkumpul lagi (semuanya) saat kami di undang acara Diklat anak kelas 1. Hari itu seumur-umur baru pertama kali kulihat tak ada satu orang pun yang kurang, kontras sekali dengan keadaan kami selama menjadi pengurus.


Hari-hari berjalan mulai cepat, hingga tanpa sadar kelulusan kami makin dekat. Dan kami memilih jalan kami masing masing. Ada yang langsung bekerja, ada yang berencana melanjutkan kuliah, dan ada juga yang mendaftarkan diri menjadi anggota Polisi dan Alhamdulillah masuk.


Setelah kami lulus jarang sekali kami bertemu, mungkin setahun sekali saat lebaran saja. Biasanya kami berkumpul di rumahnya Ian, maklum itu bascamp kami semasa SMA. Namun sayang jika pun berkumpul hanya sedikit orang yang datang, ketua kami Si Dade mulai sibuk setelah menjadi Polisi, sedangkan si Angki yang juga wakil ketua kami jarang terdengar kabarnya apakah masih hidup atau sudah tujuh harian. Sedangkan kabar tentang pak lurah kami yaitu si Milik simpang siur tak jelas, hingga kami mendengar berita kalau ia telah masuk menjadi Akabri. Jadi yang biasa berkumpul hanyalah orang-orang yang sama, aku dan Andri yang kebetulan memang sedang libur, kadang di tambah si Dedi yang baru pulang dari Jakarta.


Selama aku kuliah di Jogja hanya Andri yang sering aku lihat, maklum kami satu kost selama di Jogja dan juga kami satu tempat kuliah, hanya beda Fakultas. Aku bertemu lagi dengan si Dade setelah hampir 4 tahun tidak bertemu, kami bisa bertemu pun saat kami di undang pada acara Diklat ekstra di SMA kami. Sedangkan si Milik, aku bertatap muka denganya setelah 4 tahun lewat di rumahnya Andri. Sedangkan si Angki entah kapan aku bertemu denganya.? Ah, aku lupa.


Kalau ada bahasan yang paling membuat iri saat aku dan Andri berbincang tentang teman-teman ekstra kami ini adalah si Ian. Jodohnya ini anak bagus sekali dan mungkin tanpa praduga sama sekali. Sesekalinya dia menyukai perempuan, dan Alhamdulillah perempuannya merespon balik, eh tau-tau mereka nikah. Bahasa orang irinya, ”hebat banget jodohnya itu anak, ga perlu pake acara patah hati segala“. Yah itulah obrolanku dengan Andri, maklum nasib kami tidak semulus teman kami itu. Dan setelah dengar-dengar tentang teman kami yang lain, ternyata nasib si Dade tak jauh beda dengan kami, perlu patah hati terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menikah sekarang.


Oy ada sedikit tambahan untuk ceritanya si Dade ketua kami itu. Ceritanya ia baru sekali bertemu dengan istrinya sekarang sebelum akhirnya mereka jadian (lewat sms). Dan untuk membuktikan keseriusanya kepada bakal calon istrinya itu ia menemui istrinya yang masih kuliah di Jogja, tepatnya di UAD yang ada di daerah Glagasari. Dia menghubungi Andri waktu akan ke Jogja, kami kira dia ada tugas dari kantor jadi ia sempatkan diri untuk main ke kost kami. Dan ternyata ia membawa seorang perempuan waktu main ke kost kami. Aku dan Andri hanya geleng-geleng penuh heran. Ternyata ia ke Jogja demi sang belahan hati. Dade mengajak kami untuk piknik ke Prambanan, disinilah ke nestapaanku terjadi. Andri dan Dade berboncengan dengan “bojo“ mereka, sedangkan aku hanya sendirian dengan motor baruku, jok belakangku sepi. Makan Ati tepatnya, sayangnya disana tak ku jumpai orang yang sedang berjualan teh botol Sossro.


Satu bulan kemudian Dade kembali mengunjungi bakal calon istrinya, dan hari itu tugasku yang menjemputnya dari stasiun Tugu yang kemudian kuantar sampai ke kost bakal calon istrinya. Waktu sampai disana aku hanya duduk diam, maklum kost’an perempuan agak bikin deg-deg’an. Dade mengajakku jalan-jalan menikmati udara malam Jogja, dari jalan Malioboro sampai ke Alun-alun Selatan. Dan tentu saja dia semotor dengan Rina yang kemudian menjadi istrinya yang sekarang. Sedangkan aku? Dengan sangat baik ada seseorang yang mau ikut juga dengan kami, lupa namanya. Sekian saja cerita babak ke dua si Dade singgah di Jogja, karena terusanya aib yang memalukan. Cukup aku, Dade, Rina dan seorang yang entah lupa namanya.


Dan sialnya aib yang memalukan itu masih Dade ingat dengan jelas, parahnya lagi ia ceritan pemandangan yang memalukan itu ke teman-teman ekstra kami saat resepsi nikahanya dan juga saat ada acara Pelantikan ekstra di SMA kami belum lama ini. Sial bener ini bocah.


Setelah banyak dari kami telah menikah, bahasannya sekarang kapan kami yang masih setia ngejomblo ini menyusul rekan-rekan itu? Hanya Tuhan yang tahu, maklum kami masih mencari apa yang ingin kami capai, tapi bukan berarti kami tak memiliki target tentang hal itu sama sekali. Kata seorang teman “jodoh itu ga bakalan kemana-mana, tapi kalo ga kemana-mana jodoh ga bakalan dateng-dateng“. Masuk akal, tapi biar air mengalir dulu, maklum perahunya belum jadi, terlebih lagi tak bisa berenang.


Tapi saat membahas hal seperti ini dengan Andri, jarang sekali kami serius, lebih banyak saling menyindir satu sama lain. Namun sering ku katakan pada Andri kapan dia nyusul si Dade?, Maklum ketua kami sudah menikah, masa wakil ketuanya belum jelas kapan menikahnya, kan dirasa kurang etis kalau seksi logistik ngelangkahi wakil ketua?. Setiap kami membahas itu selalu saja tertawa. Kata Andri dia sedang mencari orangnya terlebih dahulu dan orangnya itu benar yakin mau dinikahi, intinya tak mau sekali lagi blunder. Jadi kami hanya berfikir apa yang bisa kami nikmati sekarang, maka nikmatilah. Mumpung ada. Tentang jodoh, Entahlah.


Sekarang hampir memasuki masa sepuluh tahun dari pertemuan kami yang pertama. Entah sedang apa semua mereka? Yang pasti kebanyakan dari kami telah berumah tangga, dan malah ada yang sudah memiliki anak. Ponakanku banyak sekali kayanya. Mereka semua, tempat dimana aku merasa bisa tertawa. Mereka yang lebih mirip saudara dari pada seorang teman. Itulah mereka orang-orang hebat yang sempat singgah di hidupku.

Rasanya cukup tulisanku yang ini. Tak semua detail aku ceritakan karena memang tak semuanya layak untuk diceritakan. Sekian saja, dan terima kasih sudah enggan untuk membaca.. ^_^


Dan tentang para perempuan di angkatan 13 ini, 95 persen sudah menikah dan mereka semua entah sedang ada dimana. Aku tak tahu karena aku telah kehilangan kontak dengan mereka semua. Kecuali bu Lurah kami yang rasanya masih setia dengan kesendiriannya juga.

Jumat, 12 Juni 2009

Cinta Lama

Cerita Lama Tentang Cinta

Date: 11 Juni 2009



Malam ini sekali lagi hanya bisa memandangi foto-foto yang sebagian besar harusnya sudah kuhapus dua tahun yang lalu. Foto yang sama, wajah yang sama, dan sebuah kenangan yang sepertinya takan pernah berubah. Dia, dia yang sangat bahagia pada saat itu, dimana senyum manisnya ia tebarkan di semua pose yang terfoto. Ternyata bener narsis.


Hari itu, disebuah pantai yang berada di sebelah selatan Jogja. Bukan ke Parangtritis namun ke pantai Depok, lebih umumnya disebut pasar ikan. Rencananya hari itu acara syukuran bukan di adakan disana, tapi di adakan disalah satu rumah makan yang ada di daerah Klaten (lupa namanya apa), namun karena sedikit orang yang ikut serta maka acara pun berpindah tempat. Entah siapa yang memberi ide tentang tempat yang bernama Pantai Depok, yang jelas bukan aku karena aku pun baru pertama kali singgah disana.


Oy, sebelum aku bercerita tentang acara kami yang berlangsung di pantai Depok itu, ada sedikit cerita yang lumayan lucu beberapa puluh menit sebelumnya. Suatu ketika sebelum aku berangkat ke tempat kami semua ngumpul, aku dapat telpon dari ibuku, dan terjadilah sebuah dialog;


“lagi ning ende den.?“

“Ning burjo, lagi pengen lunga“

“lunga mendi?”

“syukuran wisudaane batur KKN”

“demenane sira?“

“dudu, batur bener“

“kang bener?“

“beneran..!!“


Ya itulah dialog singkat dengan ibuku di pagi itu. Kalau boleh mengamini, Amin bener jika kelak kami bisa jadian (Nikah.Red, maklum dia ga mau Pacaran). Tapi itu dulu, waktu ku tahu jika ia masih sendiri. Kalau sekarang? Wallahu’alam........


Kembali ke cerita awal.

Hari itu yang datang di acara syukuran itu hanya 6 orang termasuk yang punya hajat (Aan, Nuril, Nining, Ima, Mufit dan Aku). Bisa di maklumi karena kami memang sudah sangat jarang berkomunikasi antara satu dengan yang lainya. Jadi jika acara itu masih sempat dihadiri beberapa orang dari kami itu masih bisa disyukuri. Karena bagaimanapun juga ada beberapa orang dari kami telah lulus terlebih dahulu, dan sisa yang lainnya tak ada kabar jelas. Namun ada seseorang yang menghubungi si punya acara kalau dia sedang mudik ke rumahnya jadi tidak bisa mengikuti acara tersebut. Tapi selama menunggu teman-teman lain datang, ada satu kejanggalan karena hari itu aku tidak melihat sosok wakil ketua KKN’ku. Maklum biasanya selalu ada pemandangan “lengket bak perangko“, Alhamdulillah hatiku lebih adem kalau memang ia tak datang.


Perjalanan dari tempat kami berkumpul sampai ke pantai Depok memakan waktu yang lumayan lama, kurang lebih satu jam perjalanan. Yang pasti kami melewati jalan Parangtritis yang panjangnya puluhan Kilometer itu. Pegel Pol. Selama perjalanan aku numpang di motornya Mufit, maklum motor lamaku tak layang untuk diajak perjalanan jauh. Risiko terberat adalah turun mesin. Dan selama perjalanan yang lama dan membosankan itu, entah karena memang gelora kenarsisan yang kelewat memuncak, sesekali kami foto-foto di atas motor yang sedang berjalan. Orang aneh semua.


Sesampainya kami di pantai Depok, tak jauh dari tempat kami memarkirkan motor, sesekali foto-foto lagi. Bener-bener. Karena pantai Depok adalah pasar ikan, jadi kami bisa membeli ikan terlebih dahulu baru kemudian memilih rumah makan untuk memasakan ikan yang telah kami beli. Tapi karena hari itu adalah perayaan syukuran orang yang baru kelar kuliah, jadi semua pengeluaran di tanggung penyelenggara acara.


Di tempat makan itu, Allahu Akbar.. lama sekali ikan-ikan itu matang. Karena sebelum berangkat tak membekali perut dengan cemilan atau sejenisnya maka kelaparanlah disana, hanya bisa mengisi perut dengan es kelapa muda yang tanpa sadar mulai habis. Kami para laki-laki yang jumlahnya ada tiga orang dan satu orang perempuan dengan setia menanti makanan-makanan itu datang, sedangkan dua gadis kecentilan sedang foto-foto bersama di bibir pantai, maklum mereka berdua memang memiliki kadar kenarsisan yang lumayan tinggi, terlebih lagi adeku itu. Poll narsisnya.


Makanan pun datang setelah menunggu satu jam lebih. Namun sebelum acara makan-makan dimulai terlebih dahulu ada acara foto bersama dengan ikan yang warnanya sudah kecoklatan karena kecap. Sesekali kucoba merayu nona penyelenggara acara untuk foto bersama (berdua saja), sayang dia menghindar. Ya, setelah selesai intermezo-intermezo yang tak jelas di lahaplah ikan-ikan tersebut. Dan dengan nafsu yang telah menggebu-gebu terlebih lagi karena perut memang telah sangat lapar kuambil potongan ikan yang lumayan besar, dan Alhamdulillah ternyata perutku tak cukup mampu menampung banyak ikan. Aku keburu kenyang padahal makanan yang baru ku makan hanya beberapa persen dari keseluruhanya. Mungkin karena dari tadi sudah kelewat lapar makanya lambungku mengalami penyempitan, hasilnya tak banyak makanan yang masuk ke dalam perutku.


Tapi apa yang terjadi denganku tak sama dengan apa yang terjadi dengan dua perempuan yang duduk di depanku, dimana secara sekilas mata ku tahu jikalau mereka memang tak bisa di sebut langsing. Walau salah satunya memahai jilbab yang lumayan panjang, tapi dari pipinya yang terlihat melebar kesamping bisa di ketahui jika perempuan itu memang sedang bahagia dan doyan makan. Makanan-makanan yang ada di atas meja lahap. Dan aku hanya bisa memandang takjub pemandangan tersebut sambil nyemil lalaban yang rasanya jarang yang makan kecuali aku. Dan benar ikan pun bersih semua. Juara makan siang itu adalah Nuril dan Ima.


Setelah acara makan kami selesai dan foto-foto susulan (si Ima kaya orang kesurupan liat air laut), kami berencana untuk singgah ke tempat KKN kami yang ada di Kecamatan Berbah. Saat perjalan kami sudah mulai terasa dekat dengan tujuan terjadi hujan yang lumayan lebat. Dua dari tiga motor memilih untuk berteduh terlebih dahulu, sedangkan motor yang di kendarai Nuril dan di bonceng Ima melesat entah dengan kecepatan dan kenekatan yang seperti apa, melabrak hujan. Ini bisa di pahami, karena Nuril biarpun perempuan memang sering kami sebut pembalap. Dan benar mereka sampai terlebih dahulu ke sebuah rumah yang dulu menjadi pos KKN kami.


Sesampainya disana kami bersilaturahmi dengan keluarga besar bu Edy yang sudah beberapa bulan tidak kami temui. Suasana yang sama, dan memang masih sama, namun ada beberapa bagian yang telah berubah karena terkena gempa di bulan Mei setahun sebelumnya. Kami tidak terlalu lama bernostagia di sana, karena kami sampai di rumah itu sudah terlalu sore. Jadi setelah magrib kami pulang.


Kami pulang tidak langsung ke kost atau rumah kami masing-masing. Kami kembali ke tempat kami berkumpul sebelum berangkat, karena motornya si Nuril di tinggal di parkiran Gedung Rektorat UII yang ada di jalan Cik Ditiro. Sesampainya disana baru kami bertukar posisisi. Mufit dia tak langsung pulang ke Jakal atas karena harus menjemput adiknya yang baru sampai dari Kebumen di terminal Giwangan. Ima kembali menaiki motornya yang dari tadi dipegang Nuril, ia pulang ke rumah bibinya yang ada di belakang kampus IAIN Sunan Kali Jaga. Sedangakan aku, Aan, Nuril dan Nining akan kembali ke kost kami yang ada di Jakal atas. Sebelum terjadi perpisahan yang rasanya tak ada haru sama sekali, seperti biasa si Ima menggodaku;


“Den, kamu bonceng mba Nuril tu?!“

“boleh“, jawabku

“yeeee“, jawab Nuril singkat dan padat..

aku dan Ima hanya tertawa mendengar jawaban Nuril.. “hahahaha“. Dan rasanya memang hanya kami yang mengerti arti jawabannya Nuril.


Itulah acara singkat di hari Minggu tanggal 8 April 2007. Acara syukuran wisudaannya Nuril tanggal 24 Maret 2007. Mungkin sangat singkat jadi sedikit kesan yang bisa kuingat. Tapi apakah aku senang?, Alhamdulillah senang walau makanan yang ku makan hanya sedikit, toh niatku ikut acara ini hanya ingin berkumpul bersama temen-temen lama, dan terutama memandangi dia juga. ^_^.


Sekian saja pembahasanku kali ini..

Semua nama yang ada di tulisan ini diakui kebenarannya

Dan kuharap mereka tak meminta royalti dari tulisan isengku ini.

Sekian saja dan terima kasih. ^_^

Tidur

Sleeper…….


Seorang teman pernah bertanya..

“Slepeer itu artinya apa?”

“Pemimpi”

“loh kok pemimpi, bukanya pemimpi itu Dreamer?”

“Orang yang suka tidurkan pemimpi bro. karena takut melihat kenyataan maka orang akan lebih suka tidur. Lebih sederhananya coba lari dari kenyataan, dengan tidur dan bermimpi kita bisa melakukan dan merasakan hal-hal yang tak bisa disentuh di alam nyata, . Jadi orang yang lebih suka tidur bukanya itu pemimpi.?”

”Oh, gitu ya.?”

“yoi bro ^_^”


Sleeper, entah sejak kapan aku menggunakan kata itu untuk menunjukan sebuah identitas. Awal pertama aku mengenal kata ini saat aku melihat-lihat tumpukan kaset Dream Theater kepunyaan temanku, entah di album yang mana namun ada salah satu judul lagu yang berbunyi “The Miracle And The Sleeper”. Namun kata itu selintas lalu, karena dari awal memang hanya melihat-lihat.


Dan entah pada suatu ketika yang seperti apa kata-kata itu kembali kuingat. Kalau tidak salah kata itu kembali bisa kuingat kala rasa sakit mendatangkan pengapnya kesepian. Dua bulan terakhir di tahun 2007, masa perenungan dari suatu kejadian yang membuatku mengerang kesakitan. Sialnya kejadian itu masih bisa kuingat jelas sampai sekarang..


Sebuah perasaan pesimis datang, nyata dan sangat agresif menyerang kesadaran. Terlebih lagi saat ingatanku menjadi buas kala seseorang dari masa laluku kembali kulihat dan tersenyum kepadaku. Dia yang dulu pernah kuinginkan, namun sayang tak ada gerak sama sekali, diam dalam keegoisan yang aneh. Mungkin karena sebuah rasa sakit saat seseorang bermain dengan pengharapanku, dan itu membuatku berucap; “dia saja tak bisa kubuat percaya apa lagi ia yang dari awal berbeda”. Hah, sejak itulah perasaan pesimis makin agresif datang, benyanyi dan makin pasti menjadikanku seorang pesimiser.


Pada masa kosong itu, sesekali kucoret-coret halaman buku yang kosong, menggambar sebuah sketsa, selain menulis yang kadang tak jelas membahas apa. Setiap membuat sebuah sketsa lebih sering membayangkan sesosok mahkluk bersayap, namun tak memiliki ekspresi wajah. Datar. Ide tentang gambar sketsa ini terispirasi tokoh Dark dalam komik DNAngel. Sesosok tokoh yang sebenarnya tak ada, hanya sebuah bayangan dari sebuah keinginan yang menjadi kenyataan. Dalam sebuah dialog dia pernah berkata “aku ingin dicintai namun aku harus sadar jika aku ini tak ada, aku hanyalah bayangan dari dirimu..”.


Aku suka dengan tokoh Dark, sepi, dingin dan kesepian walau selalu bisa tertawa untuk menutupi semuanya, namun tetap saja ia kesepian. Entah karena aku memang sangat sentimentil atau bagaimana, namun terkadang sepi untukku adalah suasana yang sangat nyaman. Mungkin sudah terbiasa, karena sebagian hidupku memang berada pada lingkaran ini, dan sangat sedikit suara yang singgah.


Yah, begitulah aku. Sebenarnya tak terlalu hebat untuk diceritakan. Namun pengalaman menjadikanku seperti ini. Dan aku terkadang merasa nyaman dengan keadaan yang seperti ini. Tak terlalu repot dengan rindu karena tak selalu orang ingin ku rindu. Jadi bukanya sendiri itu lebih lepas, bebas, dan tak memiliki harapan karena berharap itu sakit, hanya merusak sepi yang telah mapan .?


Suasana-suasana yang menurutku menyenangkan adalah ketika memandangi bintang dari balkon kost’ku yang dulu, sendirian. Atau suasana pagi di gubug kecil ditengah sawah, sendiri. Memandangi hamparan hijau yang masih sepi dan berkabut, hanya ditemani suara-suara burung dan jangkrik. Sendiri kadang memang nyaman. Namun tak semua orang tahan dengan keadaan seperti ini, apa lagi kalau sepanjang hidup mereka sangat mengerti kata “bahagia”. Ini hanya keadaan seorang manusia yang harus memilih dari sedikitnya pilihan, terlebih lagi bocah kecil yang harus memilih tentang sesuatu yang menurutnya membahagiakan. Pasti ia akan menjawab “aku ingin sendiri, aku tak peduli, tolong jangan rusak masa kecilku lebih parah”.


Harapan itu sakit, terlebih lagi saat kehilangan. Mencoba untuk tak berharap, namun sayang harapan itu seperti hantu, tak terlihat namun tanpa sadar telah membuat kita berharap. Terlebih lagi harapan yang tak ada untuk diharapkan, selintas lalu namun tetap saja menyakitkan. Dulu pernah kubaca tulisan yang sangat indah, “Teruslah berharap, walau kenyataan memaksa kita untuk tak berharap”. Semoga, semoga bisa menjadi seperti itu, semoga mampu berkata kepada diri yang telah terlalu pesimis. “Semoga tak mati dalam kepesimisan”. Amin


Namun beberapa bulan ini, istilah itu makin asing, mungkin aku tak lagi bisa merasakan apa yang sering kuucap itu, aku lupa makna kata “Si Tukang Tidur” yang sebenarnya, entah karena apa…..?


Dan karena sebuah ingatan yang mulai lupa, aku mulai merindukan suasana sepi itu. Suasana tanpa rindu dan harapan, suasana yang menurutku lebih nyaman dan sangat cocok denganku. Tak harus dilihat karena memang tak ingin dilihat. Tapi apa daya ingatan itu sebagian besar telah hilang, entah kemana bersembunyinya, dan aku pun tak bisa menemukannya lagi.


Sekarang kuberjalan di wilayah yang sangat asing, semua yang kutemui disana tak kumengerti, terlebih lagi dengan nama-nama itu. Namun penggalan-penggalannya sangat berbeda dengan dulu, ini seperti sebuah fantasi yang telah sangat lama kurindu, telah sangat lama kunanti untuk datang. Pada kumpulan fiksi inilah tanpa sadar kumulai berharap, namun terkadang tak lagi yakin jika aku masih bisa berharap. Seperti yang kutulis diatas, semuanya hanyalah fantasi, sebuah fiksi yang sebenarnya bisa sangat menyakitkan, karena hanya ilusi yang timbul karena kemabukan. Saat sadar semuanya tak ada, dan takan pernah ada…..


Inilah aku, berjalan menikmati sebuah cerita. Entah untuk apa orang-orang itu datang dan bercerita tentang hidup mereka yang juga tak sungguh bahagia. Karena sebuah cinta yang sebagian telah hancur dan rasa sakitnya telah sangat lancang meremukan sebuah epos yang selamanya ingin di ingat. Namun aku hanya bisa tersenyum, menatap aneh dengan keberadaanku yang sangat tenang dalam sebuah kumpulan yang asing. Entah dengan sangat sadar atau tidak aku berada pada lingkaran ini, aku tak tahu dan sepertinya aku memang mulai belajar untuk berharap dan mengubur semua masa lalu yang sakit dan rusak. Kurasa aku mulai mencintai, namun entah kepada siapa dan apa..?


Namun sayang, semakin aku dalam bermain dengan semuanya. Semuanya kosong. Semuanya hampa. Ini lebih mirip kemabukan yang akut dan tak kan pernah membuatku sembuh. Aku tak suka, karena aku cukup mampu mengenal keterbatasan yang ada. Aku tak ingin sakit dalam fantasi ini, aku telah cukup gila dengan semuanya. Kurasa aku mulai takut, aku takut jika akhirnya aku tetap berada disini dan mereka mulai lupa denganku. Dan memang aku takut dilupakan. Takut jika sekali lagi menjadi amnesia saat kurasa aku memang ada untuk sendiri. Baik dulu maupun sekarang…


“Sleeper”, sebuah pilihan dalam sebuah keterbatasan. Tak ada rasa percaya, jauh dari rasa berharap karena berharap itu sakit. Dan sekarang aku mulai lupa semuanya, dengan kenangan masa kecilku, dengan kenangan masa sekolahku, dan aku lupa dengan apa saja yang pernah kulakukan selama aku kuliah.


Wajah yang datar, tanpa ekspresi. Hanya penggalan wajah termangu saat menemui percakapan yang telah selesai walau sesekali membuat tertawa. “sedang apa sesaat tadi?”, “apakah benar tadi aku tertawa?”, penggalan kalimat-kalimat pendek dalam sebuah cerita pendek. Dalam sebuah khayalan manis, hidup dalam imajinasi yang semuanya ilusi, namun itulah dunia yang berisi ”Aku”. Sesosok manusia yang telah lupa, yang telah lama amnesia, lebih suka cerita pendek karena tak ada hati yang terlanjur dalam. Karena lama hanyalah menunggu waktu, karena pasti berakhir. Karena lama hanya mengingatkan akan tak adanya kehidupan yang abadi. Yang ada hanyalah kehidupan yang sempurna, sempurna karena sebuah hidup yang pasti berakhir, yang sempurna karena masih sempat merasakan cinta dan patah hati, dan yang sempurna karena masih sempat memiliki mimpi sebelum hancur karena keputusasaan.


Sudah lumayan panjang tulisanku ini. Entah sebenarnya sedang membahas apa, karena aku mulai lemah dalam mengingat, sepertinya sedang kacau. Ah, biarlah. Sedikit mengeluarkan apa yang terpikirkan, menuangkanya dalam deret kata yang semoga bisa di baca. Semoga.


Kisahku, kisah singkat yang tak penting.

Kisah singkat dari seseorang yang mungkin telah amnesia.

Seseorang yang mulai bertanya sekali lagi tentang “untuk apa aku ada disini?”

Karena, sepertinya aku mulai jatuh cinta..

Namun entah kepada siapa…?

Apakah kamu, dia, ia,?

Ah, aku lupa……….

Aku ingin tidur..

Minggu, 07 Juni 2009

linglung

Tantang Aku, Dia, Bila, Arya dan Si Bungsu*

Semua.. ah, apakah yang kusebut semua itu, bukanya hanya sebuah keisengan yang mulai melampaui batas kenyataan? Sebuah percakapan aneh, sebuah drama yang memang hanya drama. Tak ada, hanya sepenggal fiksi dari sebuah kerinduan. Namun menyenangkan, lengkap dengan tokohnya yang bernama, lengkap dengan rasa termangu yang tertinggal setiap percakapan itu selesai. Belum tamat, terus bersambung, dan makin aneh. Namun itulah penggalan cerita yang selalu ada saat kujumpai ia, seseorang yang tak kukenal, tak pernah kulihat, dan tak pernah-pernah lainya. Ya, hanya percakapan yang penuh dengan ilusi…


Sesekali manis, manis sekali, sangat manis.. sampai tanpa sadar kalau yang manis bisa terasa pahit jika terlalu banyak, dan memang menjadi pahit, getir dan janggal setiap kali percakapan itu selesai… sekali lagi, hanya ilusi.


Kumulai dengan sebuah sapaan............


“pagi mami?”

“pagi papi”

“Bla-bla……………………………..dan bla………….“


Dan setelah kalimat bla-bla-bla yang kadang tak jelas membahas apa. Kemudian topik beralih pada sesuatu yang sebenarnya tak ada, “anak-anak” atau “malaikat-malaikat kecil” kami…


“mi cita-cita punya berapa anak?”

“2 kayanya pi”

“3 aja mi, anak 1 dan 2 cowo, baru yang ke 3 ce.. biar 2 kakak bisa jaga adenya yang ce”

“hem”


Loncat lagi pada sebuah percakapan lain….


“mi, ci kakak kemana?”

“lah, kakak kan berangkat playgrup ma eyangnya”

“ade dimana mi?”

“ni ade masih tidur, kan masih kecil”

“mi, ci ade cewe apa cowo?”

“cewe pi”


Sebelum sebuah loncatan..


“pi si kakak entar TK’nya di IT ya?”

“IT, sekolah apaan itu mi?”

“itu loh TK Islam Terpadu, jadi disana si kakak juga diajarain tentang Agama, misalnya ngaji“

“oh, ya udah terserah mi aja“

“tapi pi, SPPnya itu sebulan 2 juta“

“Apa??!!!!, serius mi, mahal banget..”

“ya kan demi masa depan si kakak juga pi, biar sedini mungkin udah tau Agama“

“wah kere ini, apa uang belanja kita juga kepake buat biaya si kakak mi?“

“hu uh pi, jadi pi harus semangat ya kerjanya“

“gini ya rasanya nyekolahin anak“

“hu uh pi“


Pembahasan tentang usia:


“mi si kakak kan baru play group, umurnya kira-kira 4.5 tahun.. trus si ade lair 2 taun kemudian..?”

“hem”

“pokoknya ci kakak lair setelah kita 2 taun nikah”

“hem”

“trus sekarang mi lagi hamil lima bulan .. ya kira-kira kita udah nikah 7 tahun lah”

“lah kok, berarti mi hamil di luar nikah dong?”

“apanya hamil diluar nikah, coba dibaca lagi”

“oh, iya”


Percakapan yang terselip diantara obrolan lainya..


“mi si kakak udah pulang play grup belum”

“belum pi, tadi di jemput ma omnya”

“sekarang kemana mi?”

“ndak tau je pi.. oy pi karena sering di bawa omnya si kakak jadi suka musik ajeb-ajeb gitu. . trus ci kakak juga suka loncat-lontacan di kasur tiap denger musik gituan”

“wah, mosok mi..?”

“iya pi dandannanya ja udah beda, rambutnya di berdiriin.. tapi tetep si kakak masih rajin ngaji kok”

“waduh gawat ini, kakak kan masi kecil mi.. masih playgrup gitu….?!”

“iya pi, si omnya itu sering bawa si kakak, pa lagi omnya yang sering jemput si kakak dari play grup..”

“aduh gimana ya mi., apa kita mesti cariin adenya mi pacar aja biar musiknya ganti jadi mellow-melow gitu biar agak tenangan.. kalo orang udah jatuh cinta kan jadi melow?”

“wkwkwkwkw… wah, ade mi ga perlu dicariin, dia udah pinter pi..”

“gitu ya… mi, punya ide?”

“ga ada pi..”

“tapi si ade lum ikut-ikutan kaya si kakak kan?”

“wkwkwkw… ade kan masih kecil pi..”

“oy iya….”


Percakapan beranjak pada sebuah cerita yang lainnya, karena barulah cita-cita. Tapi sungguh menyenangkan maka sering di bahas.. tapi tetap, hanya ilusi………..


“mi, anak pertama kita kan cowo, udah ngasih namanya belum?”

“belum pi, ndak tau mo ngasih namanya sapa, mi ngikut aja”

“kalo Arya gimana mi?”

“hem, emang artinya apa pi”

“ga tau si, tapi pi suka nama itu”

“tapi kaya nama temen mi je pi”

“ya terus sapa dong namanya?”

“Bintang aja pi?!”

“hem.. Bintang ya?, kalau ade sapa mi namanya?”

“kalo ade mi yang ngasih nama ya, mi kasih nama Nabila Khoirunisa”

“artinya mi?”

“Khoiru = baik, Nisa = perempuan”

“oh, ya udah kalo gitu… trus nama si kakak sapa mi?”

“waduh sapa ya?, kalo jadi Arya Bintang gimana pi?”

“gini aja mi, Arya Bintang Saputra!”

“artinya pi?”

“ndak tau”

“pi nama si kakak kayanya aneh, yang ada arab-arabnya si pi”

“sapa ya, mi punya ide?”

“entar, kita googling aja dulu”

“kalo yusup mi?”

“Yusup Arya Bintang Saputra?”

“wah, panjangnya.. apa ga kepanjangan mi, kasian ma si kakak..? tapi bagus juga si”

“panjang ya pi?.. iya si…”

“tapi bagus kok mi,.. jadi gimana mi?... entar pi panggil si kakak Arya… oy mi, terus nama si bungsu gimana?”

“aduh pi, kan belum tau si bungsu cewe apa cowo.. kita kan lum pernah cek USG”

“hem, gitu ya”

“tapi mi ikut pi aja, kalo mo ke USG juga ga papa”

“ya udah, buat surprise aja.. jadi entar namanya kita bikin 2”

“mi ngikut aja pi”

“ya dah…”


Sisipan tentang nama..


“mi, kalo nama ade pi tambahin nama Laela, jadi si ade punya nama Nabila Laela Khoirunisa.., gimana..? kan si ade lair malem-malem waktu pi lagi nonton bola..

“wkwkwkw.. jangan Laela pi, dangdut banget kedengerannya, Laila aja“

“ya udah kalo gitu, nama si ade Nabila Laila Khoirunisa“


Percakapan berubah dengan setingan yang berbeda pula………

Pada suatu sore, namun singkat………………


“besok mo jalan-jalan mi?”

“iya pi, kepante bareng mama papa”

“oh bareng mertua pi ya…pi diajak ndak mi?”

“ya dong, entar sapa yang jaga Bila ma Arya.. mi kan bawa si bungsu, masa harus ngegendong Bila juga.. bisa-bisa brojol entar..”

“hahaha… ya dah, entar pi yang jaga Bila ma Arya”


Ada sebuah percakapan beberapa hari yang lalu, disebuah pagi…


“pi Bila ngompol”

“walah, udah di ganti celananya mi?”

“udah, tapi pi jemur kasurnya gih”

“banyak mi ngompolnya Bila?”

“hu uh, malah si Arya liat Bila ngompol mo ngompol juga”

“wah gawat banget, mosok mo ngompol juga”

“iya pi, malah si Arya punya cita-cita ngompol gitu”

“wah, kok punya cita-citanya aneh banget”

“iya tuh anak-anaknya papi aneh semua”

“loh kok gitu, bukanya mereka juga anak-anaknya mami”

“ya kan kalo nakal mereka tu anak-anaknya pi.. kan pi’y mereka aneh”

“wah ga adil itu.. kalo gitu mi lebih aneh lagi mau nerima lamaran pi?”

“wkwkwkwkw…. Udah jemur sana kasurnya”

“iya-iya pi jemur”

“Oy pi, nama panjangnya Arya sapa?”

“walah,.Yusup Arya Bintang Saputra.. jangan bilang nama panjang bila lupa juga”

“ndak dong.. Nabila Khoirunisa”

“oy mi, kalo si bungsu ce pi kasih nama Khalila ya?”

“hem, entar kalo cewe yang ada Anissa ato Nisa.. trus kalo cowo yang ada Arya ato Saputranya pi”

“kalo gitu gimana kalo Arya Kamandanu..? kaya tokoh cerita di Tutur Tinular..”

“wah, jangan.. mi ga suka namanya kaya wayang-wayangan gitu”

“terus sapa dong mi?”

“hem”


Sms.. selain lewat chat kadang aku juga menghubunginya lewat sms..


“non, kalo si bungsu cewe gimana kalo dikasih nama Salsabila Fadilah Ilmi Ramadhani.. kan kemungkinan bungsu lairnya puasa taun ini”

“haha.. bagus banget pi.. yang lain pasti pada ngiri kalo gitu. Setuju deh..”


Beberapa hari yang lalu, lewat chatingan juga kubertanya padanya..


“mi, kalo ternyata si bungsu cowo pi kasih nama Fadhil Arya Ramadhan ya?”

“bagus pi namanya, mi setujuuuuuuuuuuuuu”


Itulah sekilas obrolan kami yang sebenarnya sangat aneh sekali, lebih mirip ketidakwarasan dari pada sebuah alibi bahwa obrolan itu membuat kami tetap sehat dalam kehampaan kasih sayang. Namun ada segi positifnya juga dari obrolan yang aneh ini, setidaknya ada gambaran bagaimana repot dan riuhnya membahas masalah anak-anak, apalagi anak-anak yang masih kecil dan masih imut-imutnya.


Inilah kami, aku dan dia.. Dua orang aneh yang tetap betah berada disebuah tempat yang sepenuhnya berisi ilusi. Tapi ada kalimat yang temanku ini katakan padaku “pi, mi jadi pengen anak mi entar di kasih nama Arya“. Ya, itu lah efek samping yang diakibatkan dari obrolan kami ini, dan efek sampingnya terhadap otakku, ah.. rahasia. Itulah kami yang membayangkan menjadi orang tua, orang tua muda yang sebenarnya masih bermental pas-pas’an..


Ironi, inlah sebuah ironi yang tercipta dari rasa kesepian yang akut... lucu.

Sekian saja ceritaku tentang istri beserta anak-anakku...

Terima kasih...^_^


* Imajinasi Orang Linglung Yang Mulai Kehilangan Akal

Jumat, 05 Juni 2009

Jajaran Genjang

Cinta Jajaran Genjang


Mungkin jarang orang mendengar istilah cinta yang ini, maklum aku pun pertama kali dengar kalau cinta yang seperti ini ada, lebih umum hanya Cinta Segitiga. Istilah ini kudapatkan saat berbincang dengan teman lama, teman satu unit waktu KKN dulu. Awalnya kami tak berbincang langsung tentang masalah cinta itu, karena teman lama maka yang ditanyakan pastilah kabar tentang keadaan kami yang telah setengah tahun ini tak pernah bersua. Ya, karena kami berasal dari Provisnsi yang berbeda, terlebih lagi kotanya.


Dengan saling mengirim pesan pendek kami berbincang, dan entah dari mana arahnya kami mulai membahas sesosok manusia yang kami kenal waktu KKN juga. Seorang perempuan, seorang perempuan yang cerewet, galak dan tetek bengek lainya, tapi sangat baik. Dia teman kami, dia satu unit dengan kami, dan dia yang paling berbeda diantara yang berbeda. Menurut kami, terlebih lagi aku.


Oh maaf ada kesalah, setelah buka–buka InboX yang ada di handphone’ku, ternyata obrolan tentang hawa yang satu itu berawal dari saling balas testi di Frendster. Guna lebih meyakinkan rasa penasaran, temanku ini langsung mengirimkan pesan pendek padaku, menanyakan apa maksud kalimat yang aku kirim ke testinya yang membawa-bawa kata hati segala.. Tapi istilah itu baru muncul lewat testi balasan yang ia kirimkan padaku.. Cinta Jajaran genjang, sebuah cinta tentang 3 laki-laki yang menyukai 1 perempuan..


Dan sesuai tebakanku yang jaman dulu, ternyata bener temanku ini juga punya rasa tertarik pada hawa itu, namun ia pun sama diamnya sepertiku. Menatap hawa itu dari dekat, jauh, depan dan belakan, hanya sebuah kekaguman yang diam. Tapi mungkin aku yang terlewat parah, karena hanya aku yang terhanyut terlalu dalam pada perasaan itu, dan menjadi seseorang yang kaku dan aneh...


Namun, andai saja temanku tahu jika tidak hanya 3 laki-laki yang menyukai hawa itu, tapi 4 laki-laki, mungkin bukan Jajaran Genjang, tapi berubah menjadi nada “PENTAtonis“.. Karena ternyata ada satu lagi temanku yang menyukainya pula, bukan satu unit dengan kami, namun ia sering bermain ke pos kami..


Dan tentang satu laki-laki yang juga unitku, seseorang yang mungkin lebih berani dari kami, karena ia berani menjadi yang di ingainkan dan berjuang tanpa lelah.. Kami tahu siapa dia, wakil ketua unit kami. Entah karena kalah jabatan atau memang kalah nekat maka dia lebih di elu-elukan akan berhasil dalam berjuang, karena yang kulihat mereka mulai saling percaya. Namun itu dulu, 2.5 tahun yang lalu.. sekarang? Wallahu’alam.


Itulah sekelumit tentang Cinta Jajaran Genjang, sebuah kisah cinta yang sebenarnya tak lucu, lebih mirip ironi karena banyaknya harapan yang menggantung kemudian jatuh dan pecah.. Ironi, sesuatu yang layak untuk ditertawakan walau sebenarnya sangat mengenaskan dan tidak lucu sama sekali..


Oh Tuhan, malam ini seperti biasa, seperti setahun yang lalu, aku masih saja memandangi foto-fotonya yang seharusnya sudah kuhapus sesuai dengan apa yang perempuan itu minta 2 tahun yang lalu. Namun Tuhan, dalam kesederhanaanya aku menemukan kata untuk menulis tentangnya. Tak sangat bagus, namun sangat layak untuk membuatku ingat jika aku pernah sangat terpesona padanya, terlebih lagi saat ia tersenyum. “Jantung pun Engkau Minta Kan Ku Beri“, itu lirik sebuah lagu.. Namun kataku untuknya hanya “Ijinkan Aku Menjaga Waktu dari Jiwa dan Jasad Yang Engkau Miliki“....


Dan sekarang, tepatnya beberapa hari yang lalu teman baikku ini bertanya apakah “Cinta Jajaran Genjang“ itu telah selesai kuusahakan?, sayangnya tidak.. Sejak perempuan ini tak pernah lagi membalas pesan singkatku, sejak itu pula kuberhenti bertannya “apa kabar, sedang apa kamu?”.. Mungkin seperti yang dulu, aku terlalu cepat menyerah, hanya bisa tersenyum getir dengan kenyataan yang tak mampu diselesaikan... Namun jika ada doa yang terjujur dan paling jujur tentang perempuan itu „“Semoga belum ada yang ngelamar, terlebih lagi udah Nikah“... Semoga, AMINNNNNNNNNNNNN.. ^_^

nodame

RMS, tapi tentang sebuah nama..


Adeku, yang seminggu kemarin mempresentasikan karya Tulisnya Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan kemarin, Selasa tepatnya.. mengabari padaku jikalau ia tak juara 1 namun juara 3.. Alahamdulillah. Setidaknya juara..


Namanya Rhy, anak Aceh yang kuliah di Jurusan Komunikasi Unisba Bandung. Tak sangat kenal karena kami memang jarang sekali berbincang, bisa di bilang dalam satu bulan saja kami hanya bisa bersapa ria sehari, salah beberapa jam saja. Maklum karena kami tak lagi seintens dulu dalam bersapa, terlebih lagi sejak ia tak lagi sendiri. Dan aku pun tak pernah merayunya lagi, terlebih lagi ia terlalu menjaga jarak dengan kata gombal dan mendayu-dayu, bukanya tak suka.. Hanya risih kalau terlalu banyak.


Dia, yang suaranya entah secerah apa.. Aku bertemu denganya pada bulan Agustus tahun 2008, pertengahan bulan, lebih tepatnya lagi tanggal 16 Agustus. Namun sampai sekarang aku tidak ingat dari mana aku menemukan alamat Frendsternya, yang kuingat hanya sebuah keisengan yang mana aku sering sekali mengomentari Shoutout orang. Dan ternyata ia balas comentku itu, maka jadilah kami saling berbalas pesan.


Bahasan awal yang kami bahas itu bagaimana menulis yang baik dan benar, namun sepertinya sampai sekarang caraku menulis belum benar-benar, masih berantakan. Awal kami berbincang itu ia bercerita jika esok ia ingin menjadi seorang editor. Yup, sebuah impian yang dirasa bisa menyenangkan bagi mereka yang hobi menulis. Dan kalau boleh jujur, salah satu tulisan yang ada di blogku terinsipirasi tulisan yang ada diblog Frendster adeku ini, bukan plagiat ceritanya, hanya gaya cerita yang tercermin tentang cinta masa lalunya. Mungkin.


Pada bulan puasa tahun lalu, entah jam berapa.. Kebiasaanku adalah duduk-duduk di depan layer monitor Warnet. Internetan. Kami saling balas pesan lewat Frendster, hingga salah satunya tumbang, tidur duluan. Namun dari obrolan yang singkat itu aku cukup bisa tertawa mendengar kekesalanya yang tak tertahankan gara-gara seorang sepupunya malah membuat onar di kamar tidurnya, dimana ia yang saat itu sangat mengantuk. Tapi akhirnya tidur juga, namun sayang sangat sebentar karena ia harus bangun untuk sahur..


Karena dirasa obrolan lewat Frendster kurang efisien, dimana tiap balasan memakan waktu untuk menunggu yang tidaklah sebentar. Akhirnya kutanyakan padanya “ punya YM?“. Dan Alhamdulillah ada, jadi setidaknya kami bisa bercakap langsung, dan banyak hal yang bisa kami obrolkan.. Namun tetap sama, intensitas YM pun tak terlalu sering karena jam aktif kami jarang yang sama..


Pada hari raya Idul Fitri ada seseorang yang mengucapkan “Selamar Lebaran“, namun karena nomer itu tak ada di playlistku dan hanya menyebutkan nama “sarah“.. Coba Kutanyakan pada yang mengirim pesan, dan ternyata itu nomer Hp adeku itu. Namun walau telah memiliki nomer Hp’nya tetap saja aku jarang berbincang dengannya, kadang-kadang dan sangat jarang, mungkin diwaktu yang terasa sepi baru aku menyapanya. Dan tentang bahasan, sedikit merayu namun tetap saja tak mempan.


Ada sebuah kalimat yang masih kuingat jelas dan itu datangnya dari adeku itu, mungkin di hari itu terasa sekali kalau ada yang menusuk-nusukku. Aku Cemburu buta. Waktu itu ia bertanya tentang deskripsi cinta, dan seperti biasa kujawab pertannyaanya dengan sangat filosofis dan mendalam. Sayangnya apa yang kujawab tak menyentuh dan jauh dari apa yang ia inginkan. Mungkin. Kemudian ia berkata “Jika cinta adalah kamu”. Inilah kata yang sederhana namun sangat indah, gombal tepatnya. Ia berkata jika ada seorang laki-laki yang ia kenal, sebenarnya laki-laki itu lebih sering membuatnya jengkel karena selalu saja bersebrangan dengannya. Lelaki itu kakak teman kuliahnya, dan sudah ia kenal dari zaman SMA dulu, terlebih lagi sekarang satu Almamater.


Beberapa minggu kemudian, entah hari dan tanggal berapa. Suatu ketika dan entah setan apa yang mengganggu, ia marah karena balasan pesan yang kukirimkan padanya. Awalnya kami damai dalam bermain chating, dan entah karena ia yang sedang sensi di sore itu, ia langsung berkata kalau ia tak ingin lagi mengenalku. Sumpah aku terkejut, kukira itu hanyalah gurauan, karena bagaimanapun kami sering bergurau, terlebih lagi gurauanya ke aku cenderung Sarkasme, tapi karena gurauan yang aku cuman tertawa tiap dia bilang “ jelek mandi sana!“. Perang dingin berlangsung beberapa hari, dua hari saja tepatnya, namun dalam dua hari itu pikiranku berantakan total, kacau, bahasa lebih dramatisnya Chaos. Hingga tanpa sadar pengatku itu menular ke obrolan dengan temanku yang lain, temanku sampai berkata “tumben malam ini tenang sekali?“.


Hari minggu siang, entah pukul berapa, tanpa kukira dan kuramalkan ia mengirimiku pesan lewat YM yang sengaaja kuaktifkan karena sedang mencari teman untuk berbincang-bincang. Alhamdulillah ia minta perang dingin itu diakhiri, dan ia mengucap maaf jika ia yang memulai mengangkat bendera perang. Namun itu tak kupedulikan, yang kupedulikan hanya rasa syukur jika akhirnya aku tak kehilangan seorang teman, maklum duniaku sedikit terisi manusia.


Dan hari itu, di bulan November saat rasa suntuk mulai lancar menjalar dan membuatku mengirimkan pesan singkat padanya, siapa tahu ia mau kuajak berbincang guna sedikit membunuh waktu yang sebenarnya tak bisa di bunuh. Malam itu, malam minggu tepatnya, ia bercerita jika di Bandung sana sedang hujan dan malam itu ia hanya bertemankan guling dan bantal-bantal. Dan, suatu ketika pesanku lama ia balas, ternyata ada seseorang yang datang di malam minggunya. Mahkluk yang bernama laki-laki, dengan membawa setangkai mawar ia berikan pada gadis yang ia harapkan dan ia sayangi, sambil berkata “Semoga tak berakhir di tempat sampah“. Dan adeku ini, hanya termangu memandangi tontonan yang katanya “so sweet“. Bagaimana tidak di katakan seperti itu, berhujan ria dengan niat yang mungkin nekat, dan dengan setangkai mawar sebagai tanda cinta ia berikan pada sang calon kekasih. KEREN.


Sebulan kemudian, aku mulai jarang bersapa dengannya. Ah, tidak juga, hanya jarang ketemu saja. Pada suatu hari, entah malam Minggu atau malam Jum’at aku menyapanya lewat HP, menanyakan kabarnya dan tetek bengek lainya. Dan kali ini ia bersuara jika ada beberapa hal yang tak ia mengerti tentang laki-laki, maklum saja beberapa hari yang lalu ia bermasalah dengan kekasih yang pernah memberinya bunga mawar dulu kala itu. Entah kujawab apa, maklum pesan-pesan pendek itu sudah kuhapus karena keterbatasan memori HP. Singkatnya aku cuman berkata “kalian masih baru, jadi wajar kalo ada beberapa hal diantara kalian yang masih belum pas“. Dan ia bertanya bagaiaman cara membuat laki-laki kembali tersenyum kalau ternyata di suruh tertawa memang belum bisa?.. kujawab sederhana saja, teori dari seorang teman..“tanyakan beberapa hal sederhana padanya, hal-hal yang menunjukan perhatianmu padanya, misal pertanyaan ’sudah makan belum?’ atau lain sebagainya.“


Ternyata memang sedikit ingatanku tentang adeku ini. Jadi langsung saja meloncat keingatan di bulan Februari, berbincang dengannya sebentar, menanyakan kabarnya tentunya, karena bagaimanapun kami telah sangat lama tak berbincang ria. Kami berbincang tentang pekerjaan pertamaku sebagai pengawas proyek jalan dan juga tentang dia yang minta traktiran. Dua tawaran yang kuajukan, dan ternyata dilahap semua, dia memberi alasan tentang dirinya yang anak kost, dan sudah mendarah daging jikalau anak kost memang suka gratisan. Maklum 6 tahun aku juga pernah berperan menjadi anak kost, Jadi sangat mengerti nikmatnya gratisan.


Dan di bulan Maret, April perbincangan kami masihlah sama. Menanyakan kabar dan juga kegiatan masing-masing, dan tidak terlewat bercerita tentang keadaan badan yang kurang fit akibat flu. Dia menawari obat yang menurutnya efektif dan efisien, obat ini bisa di beli di Apotek dan memang cocok untuk penderita flu berkepanjangan. Yah itulah perbincangan kami yang memang tak memiliki motif, hanya berbincang sebentar dan mungkin lupa tadi berbincang tentang apa saja.


Selain tentang obat pernah kutanyakan padanya juga tentang boneka Doraemon, maklum ada seorang teman jauhku yang begitu dan sangat ingin memilikinya. Ku bertanya “apa menurut ade boneka Doraemon itu lucu?“, dan ia menjawab “kalo bonekanya gede baru lucu, kalau kecil ya lumayan“. Kubalas “apalagi gratis ya?“. Dan ia jawab sambil tertawa “tepat sekali“. Adeku ini, memang kadang kelewat jujur, jadi sangat wajar kalau ia tak suka berbelit-belit dalam berkalimat dan terlebih lagi kata rayuan yang terlalu gomabal. Tapi ingatannya tentangku tak pernah berubah, ia masih menjulukiku ‘pujangga’. Sebutan yang aneh.. Kadang bertanya “kak, sekarangkan udah gawe, gimana profesi pujangganya masih di geluti?”. “masih dong, penyaluran bakat” jawabku sambil tertawa..


Adeku, yang tanggal 28 Mei Kemarin mempresentasikan karya tulisnya. Sebuah mimpi yang masih membentang jauh dan masih ada waktu untuk menjadi yang pertama. Selasa kemarin selain memberitahukan hasil perlombaan karya tulisnya, ia juga menawariku untuk mencoba mengikuti lomba karya tulis, namun sayangnya aku masih malas membuat tulisan yang harus menyertakan landasan teori. Kurang bebas, melelahkan. Impianku hanya ingin bisa tulisanku kelak bisa lolos dan terpampang di rubrik Opini Kompas.


Sekian saja Tulisanku tentang saudariku yang sekarang sedang menyelesaikan tahun keduanya di Jurusan Komunikasi Unisba. Adeku yang entah siapa, dan suaranya secerah apa.. Hanya Tuhan yang tahu.. Semoga mimpi bisa didapati.. Dan rasanya jurusan Komunikasi memang cocok denganya, karena aku baru tahu jikalau ia pernah dua tahun terdampar di Informatika yang ternyata membuatnya angkat kursi, entah karena apa aku tak tahu, mungkin karena Integral dan si Pascal.. Selamat berjuang. Menjadi apa yang di citakan..^_^


Sekian, dan sangat terima kasih untuk ingatan yang ini........

God Bless U my Little Sister..................